Harga BBM Non-Subsidi Mengalami Kenaikan Signifikan
JAKARTA – Pada hari Senin, 15 Juni 2026, harga bahan bakar minyak (BBM) dari Pertamina kembali menjadi perhatian masyarakat luas. Kenaikan yang signifikan pada BBM nonsubsidi seperti Pertamax membuat beban pengeluaran transportasi semakin terasa, terutama bagi pengguna kendaraan pribadi di luar Pulau Jawa.
Berdasarkan data terbaru, harga Pertamax (RON 92) saat ini berada di angka Rp16.250 per liter untuk wilayah DKI Jakarta dan sebagian besar Pulau Jawa. Namun, di wilayah Sumatera dan Kalimantan, harga BBM yang sama bisa mencapai Rp16.650 hingga Rp17.000 per liter. Perbedaan ini disebabkan oleh kompleksitas distribusi dan logistik yang lebih tinggi di luar Jawa.
Daftar Harga BBM Non-Subsidi Terbaru
Selain Pertamax, beberapa jenis BBM nonsubsidi lainnya juga mengalami penyesuaian harga. Pertamax Green 95 kini dijual dengan harga Rp17.000 per liter secara nasional. Sementara itu, Pertamax Turbo (RON 98) dibanderol Rp20.750 per liter di Jawa dan bisa mencapai Rp21.650 per liter di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Untuk jenis solar nonsubsidi, Dexlite (CN 51) dijual Rp23.000 per liter di Jawa dan hingga Rp24.000 per liter di Sumatera. Adapun Pertamina Dex (CN 53) kini berada di angka Rp24.800 per liter di Jawa dan bisa menembus Rp25.900 per liter di luar Jawa.
BBM Subsidi Tetap Stabil
Di tengah kenaikan harga BBM nonsubsidi, pemerintah memastikan bahwa harga BBM subsidi tetap tidak berubah. Pertalite (RON 90) masih dijual Rp10.000 per liter, sementara Biosolar tetap di angka Rp6.800 per liter. Kebijakan ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama dalam situasi tekanan ekonomi akibat kenaikan harga energi global.
Penyebab Kenaikan Harga BBM
Kenaikan harga BBM ini tidak terlepas dari kondisi global. Harga minyak mentah dunia yang masih tinggi menjadi faktor utama. Ketidakpastian geopolitik turut memengaruhi pasokan energi, sehingga harga minyak sulit turun dalam waktu singkat.
Selain itu, nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat membuat biaya impor minyak menjadi lebih mahal. Kondisi ini berdampak langsung pada harga BBM nonsubsidi yang menggunakan skema harga keekonomian.
Dampak pada Masyarakat
Kenaikan harga BBM mulai dirasakan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari. Pengguna mobil dengan kapasitas tangki 40 liter kini harus merogoh kocek sekitar Rp650.000 untuk mengisi penuh Pertamax. Sementara itu, pengguna sepeda motor juga terdampak. Skutik populer seperti Honda Vario 160 membutuhkan sekitar Rp130.000 untuk sekali pengisian penuh menggunakan Pertamax Green 95.
Selisih harga yang semakin lebar antara Pertamax dan Pertalite juga mendorong sebagian masyarakat untuk beralih ke BBM subsidi guna menghemat pengeluaran.
Potensi Perubahan Harga ke Depan
Pertamina menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi akan terus dievaluasi secara berkala, biasanya setiap bulan. Artinya, harga masih sangat mungkin berubah mengikuti kondisi pasar global. Jika harga minyak dunia tetap tinggi dan nilai tukar rupiah belum stabil, maka potensi kenaikan lanjutan masih terbuka. Sebaliknya, jika kondisi global membaik, harga BBM bisa mengalami penurunan.
Update harga BBM per 15 Juni 2026 menunjukkan tren kenaikan pada BBM nonsubsidi, sementara BBM subsidi tetap stabil. Pertamax kini berada di kisaran Rp16.250 hingga Rp17.000 per liter, tergantung wilayah. Perbedaan harga antar daerah mencerminkan tantangan distribusi di Indonesia. Dengan kondisi global yang masih bergejolak, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam mengelola konsumsi bahan bakar dan menyesuaikan pengeluaran sehari-hari.












