Meski demikian, meningkatnya permintaan juga menjadi tantangan tersendiri. Paramitha menilai pemasaran digital Batik Salem masih perlu diperkuat agar masyarakat di luar Brebes lebih mudah mendapatkan produk tersebut.
“Ke depannya kami akan membantu untuk pemasaran Batik Salem sendiri, Batik Brebes,” katanya.
Pemkab Brebes, lanjut Paramitha, akan mendorong pelaku UMKM agar semakin terkoneksi dengan platform digital, termasuk memanfaatkan TikTok dan fitur keranjang kuning.
Dengan strategi tersebut, konsumen di luar daerah diharapkan dapat membeli Batik Salem secara langsung melalui kanal daring.
Dalam JFW 2026, Batik Salem ditampilkan melalui koleksi hasil kolaborasi Dekranasda Kabupaten Brebes dengan desainer Defrico Audy.
Kolaborasi ini menjadi upaya menghadirkan tampilan baru Batik Brebes tanpa menghilangkan karakter khasnya.
Defrico mempertahankan karakter batik Brebes yang identik dengan warna gelap atau sogan, seperti cokelat, tembaga, dan hitam.
Kain kemudian diberi sentuhan bordir bermotif bunga dengan warna marun, merah, dan tembaga sehingga tampil lebih modern.
“Filosofi daripada kain tersebut sebenarnya adalah lebih dari kegelapan akhirnya muncul keterangan. Jadi, dari sesuatu yang mati suri akhirnya timbul ke permukaan dengan warna-warna yang cerah,” jelas Defrico.
Defrico berharap kolaborasi dengan Dekranasda Brebes dapat terus berlanjut melalui pelatihan, pendampingan pengrajin, serta pencarian talenta desainer baru dari Brebes.
JFW 2026 sendiri memasuki penyelenggaraan ke-21 dengan mengusung tema Roots to Resonance, Beyond.
Digelar selama empat hari di JEC, ajang tersebut mempertemukan kekayaan budaya lokal dengan perkembangan industri fashion melalui keterlibatan 164 desainer, 114 model, 20 finalis Jogja Fashion Designer Competition, dan 132 booth IKM.




















