Rupiah Tembus Rp18.000, BI Akui Intervensi Saja Tak Cukup

Rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS dan BI soroti masalah fundamental ekonomi
Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS. Bank Indonesia menyebut stabilisasi rupiah membutuhkan penguatan sektor eksternal dan perbaikan fundamental ekonomi. (Foto: Ilustrasi AI)

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan berat. Pada perdagangan Selasa (29/9/2026), rupiah sempat menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), bahkan menyentuh sekitar Rp18.036 per dolar AS.

Pelemahan ini menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah belum mereda. Bank Indonesia (BI) pun mengakui bahwa menjaga rupiah tidak cukup hanya dengan mengandalkan intervensi di pasar valuta asing.

Gubernur BI, Destry Damayanti mengatakan bank sentral kini mengubah komposisi intervensinya. Transaksi langsung di pasar spot yang dinilai lebih mahal terus dikurangi dan porsinya kini sekitar 30 persen dari total intervensi BI. Sebaliknya, BI memperbesar penggunaan instrumen seperti Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF).

Langkah tersebut dilakukan karena intervensi langsung di pasar spot menggunakan cadangan devisa secara langsung. Dengan mengurangi ketergantungan pada spot, BI berupaya menjaga stabilitas rupiah tanpa terus menggerus cadangan devisa.

Namun persoalannya ternyata lebih dalam. Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR, Destry mengakui Indonesia masih menghadapi persoalan fundamental dan struktural, terutama pada sektor eksternal.

Menurut dia, intervensi besar-besaran akan sulit menjadi solusi permanen apabila kondisi sektor eksternal Indonesia masih lemah. Karena itu, pemerintah dan BI melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mendorong langkah yang lebih mendasar, termasuk memperkuat ekspor dan menarik lebih banyak investasi ke dalam negeri.

Rupiah Tertekan dari Dalam dan Luar
Pelemahan rupiah terjadi ketika tekanan global terhadap mata uang negara berkembang juga meningkat. Reuters mencatat rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS pada 29 September di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan meningkatnya harga minyak.

Yield US Treasury 10 tahun bahkan sempat mencapai sekitar 5,27 persen, level tertinggi dalam 19 tahun. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan menekan mata uang negara berkembang.

Di dalam negeri, BI juga menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi. BI sebelumnya memutuskan mempertahankan BI-Rate 5,75 persen dalam RDG 22–23 September 2026.

Bank sentral menyatakan strategi stabilisasi rupiah tetap diperkuat melalui berbagai instrumen moneter, termasuk intervensi valas dan insentif untuk menarik aliran modal asing.