Rupiah Tembus Rp18.000, BI Akui Intervensi Saja Tak Cukup

Rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS dan BI soroti masalah fundamental ekonomi
Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS. Bank Indonesia menyebut stabilisasi rupiah membutuhkan penguatan sektor eksternal dan perbaikan fundamental ekonomi. (Foto: Ilustrasi AI)

BI juga memperluas skema insentif hedging swap. Menurut keterangan yang dikutip dari laporan sebelumnya, kebijakan tersebut telah membantu menarik arus modal asing sekitar US$6 miliar dalam sebulan. Namun, tekanan terhadap rupiah tetap berlanjut.

Bukan Sekadar Menahan Rupiah
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tantangan rupiah bukan hanya persoalan seberapa besar dolar yang bisa dikeluarkan BI ke pasar. Penguatan sektor eksternal menjadi kunci.

Ekspor perlu diperkuat, investasi harus lebih deras masuk, sementara kebutuhan valuta asing dan ketergantungan terhadap faktor eksternal perlu dikelola lebih baik.

Destry menegaskan koordinasi lintas lembaga diperlukan karena BI tidak bisa mempertahankan nilai tukar hanya dengan memperbesar intervensi.

Pada 30 September 2026, rupiah memang bergerak kembali di bawah Rp18.000. Namun tekanan sebelumnya menunjukkan bahwa level tersebut telah menjadi perhatian serius pasar. Dengan kata lain, persoalan rupiah kini bukan sekadar bagaimana melewati angka Rp18.000.

Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana memperkuat fondasi ekonomi agar tekanan global tidak mudah diterjemahkan menjadi pelemahan tajam terhadap mata uang nasional.