REMBANG — Kasus dugaan keracunan makanan massal kembali mengguncang program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sebanyak 752 siswa dan 25 guru SMAN 1 Lasem dilaporkan mengalami gejala gangguan pencernaan parah seperti diare, pusing, hingga muntah-muntah usai mengonsumsi paket MBG, Kamis (3/9/2026).
Menanggapi insiden tersebut, Wakil Gubernur Jawa Tengah sekaligus Ketua Satgas Percepatan Program MBG Jateng, Taj Yasin Maimoen, menegaskan akan mengambil tindakan tegas jika ditemukan unsur kelalaian.
Kronologi Kejadian: Berawal dari Buah Buat Pencuci Mulut
Peristiwa berawal saat paket MBG didistribusikan kepada para siswa dan tenaga pengajar di SMAN 1 Lasem. Selang beberapa saat setelah menyantap hidangan, sejumlah murid mulai mengeluhkan adanya rasa aneh dan asam (kecut) pada buah pencuci mulut yang disajikan.
Gejala keracunan mulai tampak saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Laporan siswa yang mengalami diare dan mual terus bermunculan dari tiap kelas. Dalam waktu singkat, jumlah korban bertambah pesat hingga mencapai 777 orang yang terdiri dari siswa dan guru.
Penanganan Darurat dan Kondisi Korban
Pihak sekolah dibantu petugas kesehatan setempat langsung melakukan penanganan cepat. Unit Kesehatan Sekolah (UKS) difungsikan sebagai posko darurat sebelum para korban dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat, termasuk puskesmas dan rumah sakit di wilayah Rembang.
Sebagian besar korban mendapat perawatan rawat jalan dan observasi medis, sementara beberapa siswa yang mengalami dehidrasi harus menjalani perawatan rawat inap. Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang juga telah mengambil sampel makanan dari dapur penyedia untuk diuji secara laboratorium guna memastikan penyebab pasti kontaminasi.
Respon Taj Yasin: Soroti Pelanggaran SOP dan Indikasi Kelalaian
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), menyatakan bahwa penanganan medis seluruh korban menjadi prioritas utama pemerintah. Namun di sisi lain, ia menyoroti dugaan kuat adanya prosedur operasional standar (SOP) yang dilewati oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur penyedia.
“Biasanya kalau ada kasus keracunan, SOP-nya dilewati, apakah dari proses mengeluarkan bahan baku dari lemari pendingin atau saat pendistribusian. Kami sedang terjunkan tim untuk investigasi langsung ke lokasi,” ujar Gus Yasin di Semarang, Kamis (3/9/2026).
Gus Yasin menegaskan, Pemprov Jateng bersikap tegas terhadap pengelola dapur MBG. Jika dari hasil evaluasi dan investigasi terbukti ada unsur kesengajaan atau kelalaian dalam menjalankan SOP, SPPG yang bersangkutan terancam dicabut izin operasinya.
“Kalau nanti SPPG-nya ternyata SOP-nya enggak dijalankan, ya terancam kita tutup. Ini menjadi evaluasi dan pengawasan ketat kami sebagai kepala daerah,” tegasnya.
Keracunan Massal MBG di SMAN 1 Lasem Rembang, Wagub Taj Yasin Ancam Tutup SPPG
Baca Juga
Rekomendasi untuk kamu

SEMARANG – Meskipun ada kebijakan pemerintah pusat yang memangkas dana transfer ke daerah (TKD) dalam APBN…

SEMARANG – Program Sekolah Rakyat di Jawa Tengah kini telah menampung 2.692 siswa, yang tersebar di…

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan dana cadangan sekitar Rp1,2 triliun, untuk membiayai penyelenggaraan Pemilihan…

BREBES – Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan suspend kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di…

SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama DPRD setempat mengusulkan pemekaran Kabupaten Brebes, melalui pembentukan Calon…







