Kritik terhadap Struktur Kabinet Merah Putih
JAKARTA – Rocky Gerung, seorang pengamat politik ternama, menyoroti pentingnya langkah radikal dalam mengatur struktur Kabinet Merah Putih yang saat ini dianggap terlalu besar. Ia menyarankan Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan perampingan signifikan, bahkan hingga 90 persen, agar kinerja pemerintahan lebih efisien dan fokus pada program utama.
Pernyataan ini disampaikan oleh Rocky Gerung dalam acara Real Talk with Uni Lubis pada Rabu (24/6/2026). Ia menjawab pertanyaan tentang jumlah anggota kabinet yang mencapai 109 orang. Menurutnya, Presiden perlu membuat keputusan tegas untuk memangkas jumlah menteri agar energi dan pikiran bisa difokuskan pada penerapan strategi yang lebih sistematis.
“Jika Presiden bisa memangkas 50 persen, 75 persen, atau bahkan 90 persen dari jumlah kabinet, maka energi inti dari pemikirannya bisa dibentuk menjadi program yang lebih jelas dan terarah,” ujarnya.
Tidak Semua Anggota Kabinet Paham Ideologi Prabowo
Salah satu alasan Rocky Gerung menyarankan perampingan adalah karena tidak semua anggota kabinet memahami secara utuh ideologi sosialisme dan konsep Prabowonomics. Ia menilai bahwa selama jumlah kabinet tetap besar, efisiensi kerja tidak akan berubah secara signifikan.
Menurut Rocky, Presiden Prabowo tampak kesulitan dalam menyampaikan visinya kepada para menteri. Hanya sedikit orang yang benar-benar memahami prinsip-prinsip yang ingin diterapkan. Hal ini membuat komunikasi antara Presiden dan kabinet menjadi kurang efektif.
“Presiden Prabowo sebenarnya kewalahan untuk meminta kabinetnya memahami Prabowonomics. Mungkin hanya dua atau tiga orang yang benar-benar mendengarkan dan memahami maksudnya,” tambah Rocky.
Terjebak dalam Politik Transaksional
Selain itu, Rocky Gerung juga menilai bahwa Prabowo terjebak dalam politik transaksional dengan para menterinya. Banyak dari mereka yang telah memberikan dukungan kuat dalam Pemilu 2024, sehingga Presiden merasa terikat oleh kepentingan mereka.
Namun, menurut Rocky, tidak semua menteri saat ini memiliki komitmen yang sama dalam menjalankan visi Prabowo. Banyak dari mereka mungkin hanya memperhatikan keuntungan pribadi atau kelompok tertentu.
“Presiden merasa terikat oleh mereka yang telah berdarah-darah mendukungnya, tapi sebenarnya kepentingan mereka bersifat transaksional. Jadi, ini bisa menjadi kendala dalam menjalankan pemerintahan yang ideal,” kata Rocky.
Perubahan Struktur Kabinet Merah Putih
Presiden Prabowo Subianto telah melakukan beberapa kali reshuffle atau perombakan Kabinet Merah Putih sejak awal masa jabatannya. Dalam enam kali perubahan, ia terus memperbaiki struktur pemerintahan. Salah satu perubahan terbaru adalah pelantikan Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional, menggantikan Dadan Hindayana yang terlibat skandal korupsi MBG.
Saat ini, Kabinet Merah Putih terdiri dari 48 menteri dan 54 wakil menteri. Selain itu, terdapat enam pejabat setingkat menteri serta 10 penasihat dengan latar belakang beragam. Jumlah kepala badan mencapai 16 orang, ditambah delapan Utusan Khusus Presiden.
Isu-isu yang Sering Diangkat
Beberapa isu seperti Program MBG sering dikritik oleh berbagai kalangan. Namun, Prabowo menegaskan bahwa kebutuhan rakyat harus segera dipenuhi, termasuk mengatasi masalah kelaparan.
Selain itu, Prabowo juga pernah menyentil peran Aburizal Bakrie sebagai penasihat saat dulu menolak impor beras. Hal ini menunjukkan bahwa ia tetap mempertahankan pendiriannya meskipun ada tekanan dari berbagai pihak.











