Dinperwaskim Brebes Verval Kondisi Ayah dan Anak yang Hidup di Gubuk Reyot di Losari

Dinperwaskim Brebes
Dinperwaskim bergerak cepat merespons pemberitaan di media sosial mengenai seorang warga Desa Limbangan, Kecamatan Losari. (Foto: Istimewa)

BREBES – Pemerintah Kabupaten Brebes melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Dinperwaskim) bergerak cepat merespons pemberitaan di media sosial mengenai seorang warga Desa Limbangan, Kecamatan Losari, yang tinggal di hunian memprihatinkan di area Tempat Pemakaman Umum (TPU) desa setempat.

Kepala Dinperwaskim Kabupaten Brebes, La Ode Vindar Aris Nugroho, menyatakan bahwa pihaknya telah menurunkan tim ke lapangan untuk memverifikasi kondisi tersebut. Langkah ini diambil sebagai bentuk kehadiran pemerintah dalam menangani masalah sosial dan hunian tidak layak huni di wilayahnya.

“Kami Dinperwaskim Kabupaten Brebes sudah menindaklanjuti pemberitaan yang ramai di medsos terkait warga di Desa Limbangan, Kecamatan Losari, yang tinggal di tempat pemakaman umum desa,” ujarnya dalam keterangannya, Kamis (16/4/2026).

Lebih lanjut, Dinperwaskim telah menginstruksikan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) untuk melakukan identifikasi mendalam. Hal ini dikarenakan status tanah yang ditempati warga tersebut merupakan tanah milik desa, sehingga memerlukan penanganan khusus.

“Kami menugaskan Tenaga Fasilitator Lapangan untuk segera melakukan verifikasi guna mengidentifikasi dan melakukan survei langsung ke lokasi. Kami juga melakukan koordinasi dengan Pemerintah Desa setempat, BAZNAS, dan Dinas Sosial untuk penanganan lebih lanjut,” tambahnya.

Sebelumnya diberitakan, Abdul Latif, 56 tahun, warga Desa Limbangan, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, harus menjalani hidup yang serba kekurangan. Kondisi memprihatinkan. Sudah lebih dari empat tahun, ia menempati gubuk geribik anyaman bambu.

Ia tinggal di gubuk berlantai tanah yang dibangun di area bekas pemakaman keluarga. Rumahnya berbarengan dengan kandang ternak entok. Ia tinggal bersama anak semata wayangnya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, setelah dua tahun lalu istrinya meninggal dunia.

Saban hari, Abdul Latif bekerja sebagai buruh serabutan. Namun, kondisi kesehatannya yang kerap menurun membuat ia tidak lagi mampu bekerja rutin untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di usianya saat ini, ia mulai terlihat renta.

Gubuk yang ditempatinya nampak kumuh dan tak layak. Bau kotoran dari kandang entok menjadi bagian dari keseharian. Saat musim hujan, lantai tanah tergenang air. Sementara atap yang kerap bocor, menjadikan lantai tanah berlumpur. Tempat tidur dengan kasur alakadarnya, dan semua perabotan rumah, kerap terkena tempias hujan.

“Kalau hujan deras, air masuk semua. Tidak bisa tidur,” kata Abdul Latif, Rabu.