“Jadi ini suatu kebanggaan yang perlu kita promosikan ke jenjang yang lebih luas lagi,” pungkasnya.
Sementara itu, penggemar kopi yang hadir di acara festival tersebut, Agus Pramono mengaku sudah menjadi penikmat kopi sejak tahun 2007. Di acara ini, ia mencicipi kopi khas Brebes yang langsung diolah dari biji kopi yang di roasting di lokasi.
“Ini langsung dari biji. Kopi dari Brebes itu potensinya bagus sekali. Ada Kopi Dawuhan, Kaligiri, Cilibur, itu arabika semua. Untuk robustanya itu dari Capar dan Wanoja. Tapi proses pengolahannya masih kurang baik. Kami berharap pemerintah mengajak petani, prosesor kopi, roastering agar kopi Brebes itu bisa terkenal, paling tidak di Nusantara,” kata Agus Pramono.
Penggemar kopi lainnya, Edi Kusmartono mengaku telah mencoba kopi jenis arabika dadi Dawuhan Kecamatan Sirampog dan kopi dari daerah lain. Menurut dia, kopi khas Brebes ini tidak kalah dengan kopi dari daerah lain.
“Potensi kopi Brebes ini tidak kalah dengan daerah lain. Kita punya Kopi Capar, Dawuhan, dan lainnya. Ada arabika ada robusta juga. Kalau soal kopi terbaik itu tergantung selera dan pengolahannya,” pungkas Edi.
Kenalkan Potensi Daerah, Pemkab Gelar Festival Kopi dan Batik Brebes

Rekomendasi untuk kamu

Warga Mendesak Titik Kritis Segera Ditangani Di balik rencana proyek berskala besar tersebut, warga mengingatkan…

Indonesia lantang mendukung Palestina, tetapi ekspor minyak sawit ke Israel tetap berjalan. Data perdagangan mengungkap nilai ekspor produk sawit olahan mencapai US$21,6 juta pada 2025.

Kegiatan studi referensi DWP Tulungagung ke Wonosobo menggunakan APBD sekitar Rp 50 juta. Agenda wisata dan kuliner menuai kritik akademisi.

Foto Menkes Budi Gunadi Sadikin menggunakan selang oksigen di Kalteng viral setelah imbauan adaptasi kabut asap. Pasien rumah sakit dilaporkan melonjak tiga kali lipat.

Sebanyak 10 relawan dilaporkan gugur saat menangani karhutla di Indonesia. Enam korban berasal dari kawasan Bromo, tiga dari Kalimantan Tengah, dan satu dari Kalimantan Selatan.







