Fitch Ramalkan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2 Persen pada 2026, Target Pemerintah Terancam Meleset

Logo Fitch Ratings sebagai ilustrasi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen pada 2026.
Fitch Ratings memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen pada 2026, di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen. (Foto: Istimewa)

Jika pertumbuhan terlalu bergantung pada belanja pemerintah, perlambatan realisasi anggaran dapat lebih cepat terasa pada kegiatan usaha dan permintaan domestik.

Konsumsi Rumah Tangga dan Ekspor Ikut Disorot

Fitch juga memperkirakan konsumsi masyarakat berpotensi melambat pada sisa tahun 2026. Tingkat keyakinan konsumen yang lebih rendah dibandingkan awal tahun menjadi salah satu faktor yang diperhatikan lembaga tersebut.

Konsumsi rumah tangga merupakan komponen penting perekonomian Indonesia. Karena itu, perlambatan belanja masyarakat berisiko memengaruhi penjualan barang dan jasa, aktivitas perdagangan, serta keputusan dunia usaha untuk memperluas produksi maupun merekrut pekerja.

Dari sisi perdagangan luar negeri, kontribusi ekspor neto juga diperkirakan berkurang, antara lain akibat tingginya impor. Kondisi ini menjadi tantangan ketika pertumbuhan membutuhkan sumber dorongan yang lebih luas, bukan hanya dari anggaran negara.

Di tengah gejolak harga energi global, Fitch menilai ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Namun, ketahanan tersebut belum cukup untuk memastikan target pertumbuhan pemerintah tercapai.

Pertumbuhan 2027 dan 2028 Diperkirakan Hanya 4,9 Persen

Tantangan pertumbuhan tidak berhenti pada 2026. Fitch memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 4,9 persen pada 2027 dan 2028.

Angka tersebut meningkat dari proyeksi sebelumnya sebesar 4,7 persen. Meski ada revisi ke atas, perkiraan pertumbuhan itu masih berada di bawah target pemerintah sebesar 6 persen untuk 2027 dan ambisi pertumbuhan jangka menengah hingga 8 persen.

Fitch menilai kesenjangan antara proyeksi dan target pemerintah berkaitan dengan perkiraan bahwa reformasi struktural hanya memberikan dampak terbatas terhadap peningkatan produktivitas faktor produksi dan pendalaman modal.

Produktivitas faktor produksi mengacu pada kemampuan ekonomi menghasilkan lebih banyak output dari sumber daya yang tersedia. Sementara itu, pendalaman modal berkaitan dengan peningkatan modal produktif yang mendukung kapasitas produksi, seperti mesin, peralatan, teknologi, dan infrastruktur.

Tanpa peningkatan berarti pada kedua aspek tersebut, pertumbuhan berisiko bertahan di sekitar tingkat potensialnya dan sulit melonjak secara berkelanjutan.