JAKARTA – Harga emas dunia kembali bergerak tidak menentu menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), pada Rabu, 28 Oktober 2026. Kenaikan harga minyak dan kekhawatiran inflasi membuat investor mempertimbangkan kembali prospek suku bunga AS, yang menjadi salah satu faktor utama penentu arah logam mulia.
Mengutip laporan Reuters, harga emas di pasar spot turun 0,2 persen menjadi 4.050,55 dolar AS per troy ounce pada pukul 12.49 GMT, Rabu (28/10/2026). Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember melemah 0,2 persen menjadi 4.064,60 dolar AS per troy ounce.
Pergerakan tersebut terjadi setelah harga emas menguat sekitar 1 persen pada perdagangan sebelumnya, ketika pelemahan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran inflasi.
Namun, harga minyak kembali naik lebih dari 1 persen pada Rabu setelah serangan terhadap sebuah kilang di Arab Saudi memunculkan kekhawatiran baru mengenai risiko gangguan pasokan energi.
Kenaikan harga energi berpotensi mempertahankan tekanan inflasi dan membuat bank sentral AS lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.
Harga minyak dan suku bunga menekan emas
Hamad Hussain, ekonom iklim dan komoditas di Capital Economics, menilai kenaikan harga minyak serta risiko sikap The Fed yang lebih ketat daripada perkiraan pasar menjadi faktor yang membebani harga emas.
“The rise in oil prices and the risk that it results in the Fed taking a more hawkish stance than market participants expect appears to be weighing on gold prices,” kata Hussain kepada Reuters.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pasar tidak hanya memperhatikan keputusan suku bunga yang akan diumumkan The Fed, tetapi juga sinyal mengenai arah kebijakan berikutnya.
Jika inflasi tetap tinggi, bank sentral dapat mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama atau kembali menaikkannya. Imbal hasil instrumen berbunga yang lebih menarik berpotensi mengurangi minat sebagian investor terhadap emas.
Sebaliknya, apabila tekanan inflasi mereda dan The Fed memberikan sinyal kebijakan yang lebih lunak daripada perkiraan pasar, emas berpeluang memperoleh dukungan.













