‘Tarian Kehancuran Budaya’, Satir Tari Tanggai yang Menyindir Kuasa di Balik Karhutla

Penampilan Tari Tanggai Palembang dalam karya satir Tarian Kehancuran Budaya yang mengangkat kritik terhadap karhutla dan kerusakan lingkungan.
Penampilan Tari Tanggai Palembang dalam karya satir Tarian Kehancuran Budaya yang mengangkat kritik terhadap karhutla dan kerusakan lingkungan. (Foto: IG/ @ichalago)

Asap Karhutla Bukan Sekadar Persoalan Lingkungan

Dampak karhutla tidak berhenti pada pohon yang terbakar, lahan yang rusak, atau kabut asap yang mengganggu jarak pandang. Paparan asap juga menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat.

Pemberitaan Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan pada 31 Agustus 2026 menyoroti risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kabut asap di wilayah tersebut. Masyarakat, khususnya bayi, anak-anak, dan lansia, termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan dalam laporan yang dipublikasikan pada 29 Agustus 2026 mencatat bahwa karhutla telah berdampak pada lebih dari 10,6 juta penduduk di tujuh provinsi berdasarkan data hingga 27 Agustus 2026. Pada periode yang sama, tercatat 13.449 kasus ISPA secara kumulatif di wilayah terdampak.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa karhutla bukan semata-mata persoalan ekologis. Ketika asap masuk ke permukiman dan mengganggu pernapasan, kerusakan lingkungan berubah menjadi persoalan kesehatan publik yang menuntut penanganan serius.

Di tengah kondisi itu, Tarian Kehancuran Budaya menghadirkan kritik melalui bahasa seni. Asap dan kehancuran alam menjadi latar persoalan yang lebih luas: keselamatan warga, tanggung jawab kekuasaan, serta keberpihakan kebijakan terhadap kepentingan masyarakat.

Ketika Hutan Hancur, Kebudayaan Ikut Terancam

Karya ini diinisiasi bersama sejumlah seniman dan kawan sebagai bentuk perlawanan terhadap kerusakan alam. Pesan yang diangkat menegaskan bahwa hutan bukan sekadar hamparan lahan yang dapat dinilai berdasarkan kepentingan ekonomi, melainkan bagian dari ekosistem yang menopang kehidupan.

Ketika hutan rusak, masyarakat menghadapi ancaman terhadap kesehatan, mata pencaharian, dan lingkungan tempat mereka membangun kehidupan. Dalam jangka panjang, perubahan ruang hidup juga berpotensi memengaruhi tradisi dan kebudayaan yang tumbuh bersama alam.

Melalui Tarian Kehancuran Budaya, seni menjadi ruang untuk menyampaikan kegelisahan yang tidak selalu terwakili dalam bahasa kebijakan. Tari Tanggai yang biasanya menyambut tamu dengan penuh hormat kini membawa pesan yang berbeda: tidak semua kekuasaan layak disambut dengan penghormatan apabila keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan justru dipertaruhkan.

Karya tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan tarian, busana, dan seremoni adat. Kebudayaan juga membutuhkan lingkungan yang sehat dan ruang hidup yang terjaga.

Sebab, ketika hutan dihancurkan, yang terancam bukan hanya pepohonan. Kehidupan masyarakat, kesehatan publik, dan keberlanjutan kebudayaan ikut dipertaruhkan.