“Baunya sangat menyengat karena sampah yang menyumbat. Kurang nyaman sekali memang. Dipandang ya kurang pantas karena ini kan pasar induk di pusat perkotaan,” kata Warniti saat ditemui Jumat (4/9/2026).
Menurut dia, persoalan tersebut cenderung berulang. Setelah saluran dibersihkan, sampah kembali menumpuk dan menyebabkan aliran tersumbat. Padahal, armada DLHPS Brebes diketahui rutin mengangkut sampah dari kawasan pasar. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya langkah tambahan untuk mencegah sampah masuk ke saluran.
Pengunjung lainnya, Suryono (47), juga berharap penanganan dilakukan secara berkelanjutan, terutama saat musim kemarau ketika kondisi saluran dinilai semakin mengganggu. “Kondisi seperti ini terus berulang. Saluran sudah dikeruk dengan alat berat tak lama kemudian tersumbat lagi,” ujarnya.
Dorong Penanganan Berkelanjutan
Pembersihan saluran oleh Pemkab Brebes menjadi bagian dari upaya jangka pendek untuk mengurangi persoalan lingkungan di kawasan pusat kota.
Sementara itu, rencana normalisasi oleh BBWS Pemali Juana diharapkan dapat menjadi solusi jangka lebih panjang terhadap persoalan kapasitas dan kelancaran aliran saluran.
Ke depan, keberadaan jaring penahan sampah, pengawasan kebersihan, serta kesadaran pedagang dan masyarakat untuk tidak membuang sampah ke saluran menjadi bagian penting agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
Penanganan yang melibatkan pemerintah, pengelola pasar, pedagang, dan masyarakat diharapkan mampu menjaga saluran tetap bersih sekaligus meningkatkan kenyamanan kawasan pasar sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat Brebes.
Beranda
Headline
Saluran Mampet dan Bau di Pusat Kota Brebes Dibersihkan, Normalisasi Segera Dilakukan
Saluran Mampet dan Bau di Pusat Kota Brebes Dibersihkan, Normalisasi Segera Dilakukan

Rekomendasi untuk kamu

Gus Irfan, anak Gus Irfan, tenaga ahli Kemenhaj, Menteri Haji dan Umrah, klarifikasi Gus Irfan, polemik nepotisme, kekurangan pegawai Kemenhaj, Mochamad Irfan Yusuf

Pengangkatan dua putra Gus Irfan sebagai tenaga ahli Kemenhaj menuai sorotan. Publik menanti penjelasan soal kompetensi, transparansi, dan konflik kepentingan.

Rencana pemanfaatan 12,7 juta hektare hutan rusak untuk biodiesel B50-B100 menuai sorotan. CELIOS memperkirakan potensi kerugian ekonomi dan kesehatan mencapai Rp3.777 triliun.









