El Niño Makin Kuat, Musim Tanam Mundur dan Stok Pangan Terancam: Dosen UGM Dorong Diversifikasi

Penguatan El Niño berpotensi membuat awal musim hujan mundur. Dosen UGM mengingatkan jadwal tanam dan panen ikut bergeser hingga menekan stok pangan.
Ilustrasi musim panen padi di wilayah Kabupaten Brebes sebelum fenomena El Nino. (Foto: Mantiq Media)

YOGYAKARTA — Ancaman El Niño yang diperkirakan menguat hingga akhir 2026 bukan hanya soal cuaca panas dan kekeringan. Dampaknya bisa merembet langsung ke sektor pertanian, karena musim hujan diprediksi datang lebih lambat di sejumlah wilayah Indonesia.

Kondisi ini berpotensi membuat jadwal tanam dan panen petani ikut mundur, sehingga ketersediaan pangan harus menghadapi tekanan lebih panjang.

Guru Besar Bidang Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Bayu Dwi Apri Nugroho, mengatakan perubahan pola hujan harus segera diikuti dengan penyesuaian kalender pertanian.

Menurutnya, ketika awal musim hujan mundur, petani tidak bisa menjalankan pola tanam seperti biasanya. “Dengan mundurnya jadwal tanam, otomatis jadwal panen juga ikut mundur,” kata Bayu, Senin (28/9/2026).

Persoalannya tidak berhenti di lahan pertanian. Mundurnya masa panen dapat mempengaruhi ketersediaan stok pangan yang sudah ada. Masyarakat, kata Bayu, akan semakin bergantung pada stok pangan sebelumnya sambil menunggu hasil panen berikutnya tersedia.

Padi dan Jagung Jadi Komoditas yang Perlu Diwaspadai
Ancaman semakin besar pada tanaman pangan yang membutuhkan pasokan air cukup tinggi, seperti padi dan jagung. Jika ketersediaan air tidak mencukupi selama masa pertumbuhan, risiko gagal tanam maupun gagal panen dapat meningkat. Produktivitas pun berpotensi turun. Bayu mengingatkan, penurunan produksi pangan dapat berimbas pada harga.

“Apabila ketersediaan airnya kurang, tentunya akan menyebabkan penurunan produktivitas. Dengan turunnya produktivitas akan menyebabkan harga yang mahal dan berakibat pada perekonomian secara nasional,” ujarnya.

Karena itu, antisipasi tidak cukup hanya dilakukan ketika kekeringan sudah terjadi. Adaptasi harus dimulai dari pola budidaya hingga pilihan komoditas yang ditanam.

Salah satu langkah yang didorong adalah pengembangan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan serta penerapan metode pertanian yang lebih hemat air.

Ketergantungan pada Beras Perlu Dikurangi
Di tengah ancaman perubahan pola musim, Bayu juga menyerukan diversifikasi pangan. Menurutnya, ketahanan pangan tidak seharusnya terlalu bergantung pada satu komoditas, terutama beras.