El Niño Makin Kuat, Musim Tanam Mundur dan Stok Pangan Terancam: Dosen UGM Dorong Diversifikasi

Penguatan El Niño berpotensi membuat awal musim hujan mundur. Dosen UGM mengingatkan jadwal tanam dan panen ikut bergeser hingga menekan stok pangan.
Ilustrasi musim panen padi di wilayah Kabupaten Brebes sebelum fenomena El Nino. (Foto: Mantiq Media)

Pengembangan sumber pangan alternatif dinilai penting untuk mengurangi tekanan terhadap pasokan beras ketika produksi terganggu akibat keterbatasan air. “Artinya kita tidak hanya menggantungkan saja dari beras, tetapi ada komoditas lain pengganti beras,” kata Bayu.

Selain diversifikasi pangan, teknologi pemanenan air hujan juga dinilai perlu diperluas. Air hujan yang selama ini langsung mengalir atau terbuang dapat ditampung untuk dimanfaatkan kembali, terutama bagi kebutuhan pertanian.

El Niño Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027
UGM menyebut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan fenomena El Niño dapat bertahan hingga Februari 2027. Fenomena tersebut berpotensi mengubah pola suhu dan curah hujan serta meningkatkan risiko kekeringan, banjir, hingga cuaca panas ekstrem.

Di Indonesia, penguatan El Niño diprediksi berlangsung bersamaan dengan periode masuknya musim hujan. Namun, sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami kemunduran awal musim hujan. Kondisi tersebut membuat penyesuaian kalender pertanian menjadi semakin penting.

Bayu menegaskan, El Niño bukan fenomena yang datang secara tiba-tiba. Karena itu, langkah mitigasi dan adaptasi perlu dilakukan sejak sekarang, termasuk menyiapkan varietas tahan kekeringan, menghemat penggunaan air, serta membangun sistem pemanenan air hujan.

Dengan begitu, ancaman perubahan musim tidak langsung berubah menjadi persoalan baru berupa terganggunya produksi pangan dan tekanan terhadap harga kebutuhan pokok.