Di sisi tenaga kerja, Jawa Tengah memiliki 1.557 sekolah menengah kejuruan negeri dan swasta dengan lebih dari 800.000 siswa, serta lembaga pelatihan kerja untuk menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri.
Ketersediaan tenaga kerja terampil menjadi salah satu modal untuk menarik investor. Meski demikian, hubungan antara kebutuhan industri, kurikulum pendidikan vokasi, dan kesempatan kerja nyata perlu terus diperkuat agar pertumbuhan investasi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas produksi.
Investor Asing Terus Bidik Jawa Tengah
Dari sisi negara asal penanaman modal asing, Hong Kong menempati posisi pertama dengan nilai Rp11,02 triliun atau 27,04 persen. Singapura menyusul dengan Rp9,59 triliun, Tiongkok Rp6,74 triliun, Thailand Rp3 triliun, dan Jepang Rp2,41 triliun.
Johan juga mengungkapkan adanya penjajakan investasi dari calon investor Uni Emirat Arab, termasuk rencana pembangunan fasilitas kilang mikro di sekitar Jepara. Rencana tersebut masih berada pada tahap penjajakan sehingga belum dapat diperlakukan sebagai investasi yang telah terealisasi.
Peluang baru itu memperlihatkan bahwa Jawa Tengah masih berupaya memperluas sumber investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, realisasi akhir tetap bergantung pada keputusan investor, kepastian perizinan, kesiapan infrastruktur, dan kelayakan proyek.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan investasi tidak cukup berhenti pada nilai rupiah yang masuk atau jumlah proyek yang tercatat. Pemerintah perlu memastikan modal yang datang mampu membuka pekerjaan yang layak, memperkuat usaha lokal, dan menyebarkan manfaat ekonomi ke lebih banyak wilayah.
Investasi Rp72,54 triliun merupakan capaian penting. Tantangan sesungguhnya adalah membuktikan bahwa angka besar tersebut juga berarti peningkatan kesejahteraan bagi warga Jawa Tengah.













