Rupiah Tertekan, Harga Minyak Melonjak: Beban APBN Indonesia Kian Berat

Uang rupiah dan dolar AS di tengah tekanan nilai tukar dan kenaikan harga minyak dunia
Pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak dunia berpotensi menambah tekanan terhadap anggaran subsidi energi Indonesia. (Foto: Istimewa)

Besarnya realisasi belanja tersebut menunjukkan pentingnya kebijakan subsidi sebagai penyangga harga bagi masyarakat. Namun, ketika harga energi global meningkat dan rupiah melemah, biaya penyediaan energi berisiko bertambah.

Jika tekanan berlangsung berkepanjangan, pemerintah menghadapi tantangan untuk menjaga keterjangkauan harga energi tanpa mengabaikan kesehatan APBN.

Bank Indonesia Pantau Pergerakan Rupiah

Di tengah gejolak pasar, Bank Indonesia menegaskan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan pergerakan rupiah tetap dipengaruhi dinamika permintaan dan penawaran di pasar setiap hari.

“Kami tetap berada di pasar. Itu bergantung pada dinamika permintaan dan penawaran hari itu; kami tentu terus mengawasi pergerakannya,” kata Destry.

Destry juga menyatakan belum ada perubahan strategi intervensi. Bank sentral terus memantau volatilitas dan menelaah faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan nilai tukar.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Destry menghadiri Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta pada Senin (26/10/2026).

Risiko Terhadap Daya Beli dan Perekonomian

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya barang impor, termasuk bahan baku industri dan energi. Jika kenaikan biaya tersebut diteruskan ke harga jual, tekanan dapat merambat ke inflasi dan daya beli masyarakat.

Kenaikan harga minyak juga menempatkan pemerintah pada pilihan yang tidak mudah. Di satu sisi, subsidi diperlukan untuk meredam dampak kenaikan harga energi bagi masyarakat.

Di sisi lain, peningkatan kebutuhan subsidi dan kompensasi dapat mempersempit ruang anggaran untuk program pembangunan lainnya.