Pembersihan tersebut diharapkan dapat mengurangi tumpukan sampah sekaligus menghilangkan sumber bau yang selama ini dikeluhkan masyarakat.
DLHPS Siapkan Penanganan Bersama
Kepala DLHPS Brebes, M. Sodiq, mengatakan persoalan saluran tersebut membutuhkan penanganan lintas instansi. Menurutnya, DLHPS tidak dapat bekerja sendiri karena saluran irigasi berkaitan dengan kewenangan instansi lain.
Dalam penanganannya, saluran dinilai perlu dikeruk sekaligus diberikan perlindungan agar sampah tidak kembali masuk. “Saluran itu memang harus dikeruk dan di atasnya dipasang jaring lagi supaya sampah tidak langsung jatuh ke saluran,” ungkap Sodiq.
Sodiq menjelaskan, pihaknya sebenarnya telah melakukan persiapan untuk menangani persoalan tersebut, termasuk melakukan pengukuran kebutuhan jaring penutup saluran.
Namun, rencana penanganan pemerintah daerah kemudian harus disesuaikan dengan adanya proyek pengerukan saluran yang akan dilakukan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.
“Sebenarnya kemarin-kemarin sudah mau kita tangani. Bahkan kami juga sudah melakukan pengukuran untuk kebutuhan jaringnya, tapi dalam waktu dekat ini juga akan ada proyek dari BBWS,” tandasnya.
Persoalan tersebut kini menjadi perhatian karena saluran berada di kawasan perdagangan yang menjadi salah satu titik aktivitas masyarakat di pusat Kota Brebes.
Pembersihan tumpukan sampah dinilai hanya menjadi solusi sementara apabila tidak dibarengi dengan upaya mencegah sampah kembali masuk. Karena itu, pemasangan jaring serta koordinasi lintas instansi diharapkan dapat menjadi langkah lanjutan agar saluran tidak kembali tersumbat dan kawasan pasar terbebas dari bau busuk.
Beranda
Headline
Saluran Irigasi di Pusat Kota Brebes Dipenuhi Sampah, Bau Busuk Ganggu Pengunjung Pasar
Saluran Irigasi di Pusat Kota Brebes Dipenuhi Sampah, Bau Busuk Ganggu Pengunjung Pasar

Rekomendasi untuk kamu

Gus Irfan, anak Gus Irfan, tenaga ahli Kemenhaj, Menteri Haji dan Umrah, klarifikasi Gus Irfan, polemik nepotisme, kekurangan pegawai Kemenhaj, Mochamad Irfan Yusuf

Pengangkatan dua putra Gus Irfan sebagai tenaga ahli Kemenhaj menuai sorotan. Publik menanti penjelasan soal kompetensi, transparansi, dan konflik kepentingan.

Rencana pemanfaatan 12,7 juta hektare hutan rusak untuk biodiesel B50-B100 menuai sorotan. CELIOS memperkirakan potensi kerugian ekonomi dan kesehatan mencapai Rp3.777 triliun.









