400 Lulusan Disiapkan Masuk BUMN, Ini Skema Program URI yang Digagas Prabowo

Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan kepada 400 peserta Program P3MDI 2026.
Presiden Prabowo Subianto memberikan pembekalan kepada peserta Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan Indonesia (P3MDI) sebelum dipersiapkan bekerja di BUMN dan program strategis nasional. (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Sebanyak 400 sarjana terpilih dalam Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan Indonesia (P3MDI) Batch 1 Tahun 2026 diproyeksikan mengisi kebutuhan sumber daya manusia di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sejumlah program strategis nasional.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengatakan, penyiapan ratusan peserta tersebut dilakukan melalui Universitas Republik Indonesia (URI).

Sebelum ditempatkan di dunia kerja, para peserta akan menjalani serangkaian pembekalan untuk meningkatkan kemampuan profesional sekaligus membangun karakter kepemimpinan.

“Penyiapan dari 400 orang yang nantinya ditempatkan di BUMN dan program strategis dilakukan oleh URI,” kata Brian seusai menghadiri taklimat Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Brian menjelaskan, proses pembekalan dirancang berlangsung selama delapan bulan. Rinciannya, enam bulan pelatihan intensif dan dilanjutkan dua bulan program magang.

Melalui tahapan tersebut, peserta diharapkan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan BUMN maupun pelaksanaan proyek strategis pemerintah.

Prabowo Tekankan Integritas dan Jiwa Kebangsaan

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan langsung kepada 400 peserta P3MDI. Presiden mengingatkan bahwa kemampuan akademis dan profesional saja tidak cukup untuk menjadi calon pemimpin masa depan.

Menurut Prabowo, para peserta juga harus memiliki integritas, kedisiplinan, empati, serta pemahaman terhadap kondisi masyarakat Indonesia.

Brian mengatakan, materi pembelajaran tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas teknis, tetapi juga pembentukan karakter dan kepemimpinan.

“Pembelajaran seperti biasa, disiplin kebangsaan, empati, di saat yang sama ada penyiapan kapasitas, kepemimpinan. Kombinasi kedua itu,” ujar Brian.