Di Sumatra, jumlah warga terdampak mencapai sekitar 31,4 juta orang atau separuh populasi. Sementara di Jawa, sekitar 23,8 juta penduduk juga menghadapi paparan udara tidak sehat.
Kondisi tersebut tercermin dari konsentrasi rata-rata PM2,5 nasional yang mencapai 36 mikrogram per meter kubik. Angka ini lebih dari tujuh kali lipat ambang rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 5 mikrogram per meter kubik.
Situasi di Kalimantan jauh lebih buruk. Konsentrasi PM2,5 mencapai 120 mikrogram per meter kubik, sedangkan Sumatra berada di angka 51 mikrogram per meter kubik.
Adapun rata-rata konsentrasi PM2,5 di Jawa tercatat 26 mikrogram per meter kubik. Meski relatif stabil, kawasan ini tetap berpotensi terdampak asap kiriman dari wilayah lain akibat perubahan pola angin menjelang akhir tahun.
Ratusan Ribu Kasus ISPA, Anak-anak Ikut Menanggung Dampak
Ancaman polusi udara juga tercermin dari meningkatnya gangguan kesehatan masyarakat. Data Kementerian Kesehatan hingga 21 Oktober 2026 mencatat sebanyak 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi yang terdampak karhutla.
Kalimantan Selatan dan Sumatra Selatan menjadi dua provinsi dengan jumlah kasus tertinggi. Masing-masing mencatat hampir 75.000 kasus ISPA. Kelompok paling rentan adalah anak-anak berusia di bawah lima tahun. Mereka menyumbang 75.172 kasus atau hampir seperempat dari total kasus ISPA yang tercatat.
Dokter spesialis paru sekaligus Dewan Penasihat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Agus Dwi Susanto, mengingatkan bahwa paparan polusi udara secara terus-menerus dapat menimbulkan kerusakan serius pada sistem pernapasan.
Dampaknya tidak berhenti pada gangguan pernapasan sementara. Paparan jangka panjang dapat memicu ISPA berulang hingga penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
“Dalam kondisi tertentu, paparan polutan udara juga berkaitan dengan risiko terjadinya fibrosis paru hingga kanker paru,” kata Agus.













