CREA Catat Asap Karhutla Renggut 3.560 Nyawa, Kalimantan Paling Parah

Asap kebakaran hutan dan lahan menyelimuti kawasan permukiman di Kalimantan, menyebabkan kualitas udara memburuk dan mengancam kesehatan warga.
Anak kecil melakukan protes soal kawasan yang diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. CREA memperkirakan polusi terkait karhutla berkontribusi terhadap 3.560 kematian di Indonesia pada September 2026. (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar persoalan kerusakan lingkungan. Asap beracun yang dihasilkan dari kebakaran tersebut telah menjadi ancaman serius bagi keselamatan masyarakat. Sebuah laporan terbaru bahkan memperkirakan polusi akibat karhutla berkaitan dengan 3.560 kematian di Indonesia sepanjang September 2026.

Angka tersebut menjadi bagian dari proyeksi total 5.310 kematian akibat polusi udara di Indonesia pada periode yang sama. Selain karhutla, sebanyak 1.750 kematian diperkirakan berkaitan dengan polusi kronis dari aktivitas industri dan emisi perkotaan.

Data tersebut berasal dari laporan Center for Research on Energy and Clean Air (CREA), lembaga riset yang mengkaji dampak polusi udara terhadap kesehatan.

Kalimantan menjadi kawasan dengan risiko kematian tertinggi akibat asap karhutla. Empat provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur, mencatat estimasi gabungan 1.470 kematian. Sementara itu, lima provinsi di Sumatra mencatat estimasi 1.420 kematian akibat paparan polusi terkait karhutla.

Analis CREA, Katherine Hasan, mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan bahwa sumber pencemaran udara di Indonesia semakin kompleks. Di sejumlah wilayah, asap kebakaran hutan dan lahan bahkan telah menggeser polusi perkotaan sebagai penyebab utama risiko kematian terkait polusi udara.

“Di Jawa, polusi udara non-karhutla tetap menjadi penyebab utama kematian, khususnya pada wilayah perkotaan padat penduduk. Namun demikian, meningkatnya kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Papua telah menggeser penyebab utama kematian terkait polusi udara dari polusi urban ke asap karhutla yang beracun,” kata Katherine dalam siaran pers, Kamis (29/10/2026), dikutip Mantiq Media pada Minggu (1/11/2026).

57,8 Juta Penduduk Terpapar Udara Tidak Sehat

Dampak karhutla tidak hanya terlihat dari estimasi kematian. Jutaan warga juga harus menjalani aktivitas sehari-hari di tengah kualitas udara yang tidak sehat hingga berbahaya.

CREA mencatat sekitar 57,8 juta penduduk Indonesia terpapar kondisi udara tersebut sepanjang September 2026. Kalimantan menjadi wilayah dengan paparan paling mengkhawatirkan. Sekitar 14 juta penduduk atau hampir 80 persen dari total populasi kawasan tersebut menghirup udara dengan kualitas buruk. Jumlah ini meningkat dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat 12,3 juta orang.